Kamis, 01 September 2011

MANUSIA DALAM PERSPEKTIF ISLAM

1. Hakekat dan Martabat Manusia dalam Islam
Manusia adalah makhluk ciptaan Allah SWT. yang misterius dan sangat menarik. Dikatakan misterius karena semakin dikaji semakin terungkap betapa banyak hal-hal mengenai manusia yang belum terungkapkan. Dan dikatakan menarik karena manusia sebagai subyek sekaligus sebagai objek kajian yang tiada henti-hentinya terus dilakukan manusia khususnya para ilmuwan. Oleh karena itu ia telah menjadi sasaran studi sejak dahulu, kini dan kemudian hari. Hampir semua lembaga pendidikan tinggi mengkaji manusia, karya dan dampak karyanya terhadap dirinya sendiri, masyarakat dan lingkungan hidupnya.
Para ahli telah mengkaji manusia menurut bidang studinya masing-masing, tetapi sampai sekarang para ahli masih belum mencapai kata sepakat tentang manusia. Ini terbukti dari banyaknya penamaan manusia, misalnya homo shapien (manusia berakal), homo ecominicus (manusia ekonomi) yang kadang kala disebut economic animal (binatang ekonomi), Al-Insanu hayawanun nathiq (manusia adalah hewan yang berkata-kata) dan sebagainya.
Al-Qur’an tidak menggolongkan manusia ke dalam kelompok binatang (animal) selama manusia mempergunakan akalnya. Namun, kalau manusia tidak mempergunakan akal dan berbagai potensi
pemberian Allah SWT. yang sangat tinggi nilainya yakni pemikiran (rasio), kalbu, jiwa, raga dan panca indera secara baik dan benar, ia akan menurunkan derajatnya sendiri menjadi hewan seperti yang dikatakan oleh Allah SWT. dalam QS. Al-A’raf ayat 179 yang artinya : “Mereka (jin dan manusia) punya hati tetapi tidak dipergunakan untuk memahami (ayat-ayat Allah), punya mata tetapi tidak dipergunakan untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), punya telinga tetapi tidak digunakan untuk mendengar (ayat-ayat Allah). Mereka (manusia) yang seperti itu sama (martabatnya) dengan hewan bahkan lebih rendah lagi dari binatang”.

2. Kelebihan Manusia dari Makhluk Lainnya, Fungsi dan Tanggung Jawab Manusia dalam Islam
Menurut ajaran Agama Islam, manusia dibandingkan dengan makhluk lain mempunyai berbagai macam ciri utamanya, diantaranya adalah :
1. Makhluk yang paling unik, dijadikan dalam bentuk yang paling baik, ciptaan Allah SWT. yang paling sempurna. Firman Allah SWT. : “Sesungguhnya Kami telah menjadikan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya”. (QS. At-Tiin ayat 4).
2. Manusia memiliki potensi (daya atau kemampuan yang mungkin dikembangkan) beriman kepada Allah SWT. Sebab sebelum ruh (ciptaan) Allah dipertemukan dengan jasad di rahim ibunya, ruh yang berada di alam gaib itu ditanyai oleh Allah, sebagaimana yang tertera dalam QS. Al-A’raf ayat 172 : “Apakah kalian mengakui Aku sebagai Tuhan kalian? (para ruh itu menjawab) ‘ya’, kami akui (kami saksikan) Engkau adalah Tuhan kami”.


3. Manusia diciptakan oleh Allah SWT. untuk mengabdi kepada-Nya, sebagaimana yang tertera di dalam QS. Adz-Dzariyat ayat 56 : “Tidaklah Aku ciptakan jin dan manusia kecuali untuk beribadah kepada-Ku”.
4. Manusia diciptakan oleh Allah SWT. untuk menjadi khalifah-Nya di bumi. Hal ini dinyatakan Allah dalam firman-Nya QS. Al-Baqarah ayatn 30, bahwa Allah menciptakan manusia untuk menjadi khalifah-Nya di bumi. Perkataan “menjadi khalifah” dalam ayat tersebut mengandung makna bahwa Allah menjadikan manusia wakil atau pemegang kekuasaan-Nya mengurus dunia dengan jalan melaksanakan segala yang diridhai-Nya di muka bumi ini.
5. Di samping akal, manusia dilengkapi Allah dengan perasaan dan kemauan atau kehendak. Dengan akal dan kehendaknya manusia akan tunduk dan patuh kepada Allah, menjadi muslim. Tetapi dengan akal dan kehendaknya juga manusia dapat tidak percaya, tidak tunduk dan tidak patuh kepada kehendak Allah, bahkan mengingkari-Nya, menjadi kafir. Karena itu di dalam Al-Qur’an ditegaskan oleh Allah SWT. : “Dan katakan bahwa kebenaran itu datangnya dari Tuhanmu. Barang siapa yang mau beriman hendaklah ia beriman, dan barang siapa yang tidak ingin beriman, biarlah ia kafir”. (QS. Al-Kahf ayat 29).
6. Secara individual manusia bertanggung jawab atas segala perbuatannya. Hal ini dinyatakan oleh Allah SWT dalam QS. Ath-Thur ayat 21 : “Setiap orang terikat (bertanggung jawab) atas apa yang dilakukannya”.
7. Berakhlak. Berakhlak adalah ciri utama manusia dibandingkan makhluk lain. Artinya manusia adalah makhluk yang diberikan oleh Allah SWT. kemampuan untuk membedakan yang baik


dengan yang buruk. Dalam Islam kedudukan akhlak sangat penting, ia menjadi komponen ketiga dalam Islam. Kedudukan ini dapat di lihat dalam As-Sunnah Nabi Muhammad SAW. yang mengatakan bahwa beliau diutus hanyalah untuk menyempurnakan akhlak manusia yang mulia.

Di dalam Al-Qur’an cukup banyak ayat-ayat yang menerangkan tentang asal usul dan kejadian manusia, antara lain :
1. Firman Allah SWT. :
Sesungguhnya Aku menjadikan manusia dari tanah liat”. (QS. As-Shaffat ayat 11).
2. Firman Allah SWT. :
“Dan ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada Malaikat; sesungguhnya Aku akan menciptakan seorang manusia (Adam) dari tanah kering dan lumpur hitam”. (QS. Al-Hijr ayat 28).
3. Firman Allah SWT. :
“Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dari (sari pati) tanah. Kemudian Kami jadikan sari pati itu air mani (yang disimpan) dalam tempat yang kokoh (rahim). Kemudian air mani itu Kami jadikan segumpal darah, lalu segumpal darah itu Kami jadikan segumpal daging, lalu segumpal daging itu Kami jadikan tulang belulang, lalu tulang belulang itu Kami bungkus dengan daging. Kemudian Kami jadikan dia makhluk yang berbentuk lain. Maka Maha Sucilah Allah, Pencipta yang paling baik. Kemudian sesudah itu, sesungguhnya kamu sekalian benar-banar akan mati. Kemudian, sesungguhnya kamu sekalian akan

dibangkitkan (dari kuburmu) di hari kiamat”. (QS. Al-Mu’minuun ayat 12 s/d 16).
Berdasarkan keimanan dan ketaqwaannya, amal saleh atau amal salah yang dilakukan manusia baik sebagai abdi maupun sebagai khalifah selama hidup di dunia ditentukanlah nasib manusia itu. Yang beriman dan taqwa, mengikuti pedoman yang diberi Allah dan melaksanakannya, dimasukkan ke dalam jannah yang disebut surga yaitu alam akhirat tempat (ruh) manusia mengenyam kebahagiaan sempurna sebagai balasan pahala amal salehnya selama hidup di dunia. Sebaliknya, jikan manusia tidak beriman dan tidak bertaqwa serta melakukan amal salah selama hidupnya di dunia dimasukkan ke dalam nar yang disebut juga dengan neraka yaitu tempat penyiksaan dengan api menyala untuk orang yang tidak beriman dan tidak pula bertaqwa, beramal salah penuh dosa selama dalam kehidupan di dunia. Dalam tahap akhir atau kelima ini (ruh) manusia akan hidup abadi, kekal selama-lamanya.
Dari uraian tersebut di atas dapatlah disimpulkan bahwa manusia adalah makhluk ciptaan Allah SWT. yang terdiri dari jiwa dan raga, berwujud fisik dan ruh. Sebagai makhluk Ilahi, hidup dan kehidupannya berjalan melalui lima tahap, masing-masing tahap disebut “alam” yaitu :
1. Di alam gaib (alam ruh/arwah)
2. Di alam rahim
3. Di alam dunia (yang fana ini)
4. Di alam barzah
5. Di alam akhirat (yang kekal = abadi) yakni alam tahapan terakhir hidup dan kehidupan manusia.

Karena pentingnya kehidupan manusia di dunia, maka selama hayatnya di alam fana ini, manusia di karunia oleh Allah SWT. dengan berbagai alat perlengkapan dan bekal supaya manusia dapa melaksanakan tugasnya sebagai abdi dan khalifah Allah di dunia ini. Selain itu, Allah SWT. juga memberi kepada manusia pedoman hidup yang mutlak kebenarannya, agar kehidupan manusia dapat selamat sejahtera di dunia ini dalam perjalanannya menuju tempatnya yang kekal di akhirat nanti. Pedoman itu adalah agama.
Dalam menentukan pilihan, manusia memerlukan petunjuk. Petunjuk yang benar terdapat dalam agama Allah SWT. yang menciptakan manusia itu sendiri yaitu Agama Islam. Karena Agama Islam adalah agama yang tidak hanya berorintasi kepada dunia ini saja ( yang dilambangkan oleh kata “ruh” ciptaan-Nya itu) tetapi kepada keseimbangan antara dunia dan akhirat, manusia yang menpunyai dua dimensi atau bi-demensional itu akan mampu menetapkan pilihannya dan melaksanakan tanggung jawabnya di dunia ini dan di akhirat kelak.
Di dalam Al-Qur’an dijelaskan bahwa agama yang benar di sisi Allah SWT hanyalah satu yakni Agama Islam. Sebagai mana Allah SWT. berfirman dalam Surat Ali Imran ayat 19 yang artinya : “Sesungguhnya agama yang diridhai di sisi Allah hanyalah Islam”. Al-Qur’an adalah sumber Agama Islam, mengandung berbagai ajaran termasuk tentang kehidupan manusia. Melalui Al-Qur’an, manusia mengetahui siapa dirinya, dari mana ia berasal, di mana ia berada dan kemana ia akan pergi.
Al-Qur’an tidak memandang manusia sebagai makhluk yang tercipta secara kebetulan, tetapi diciptakan setelah sebelumnya direncanakan untuk mengemban tugas, mengabdi dan menjadi khalifah di muka bumi ini (QS. Al-Baqarah ayat 30). Untuk
mengemban tugas sebagai khalifah, manusia dibekali oleh Allah SWT. potensi dan kekuatan positif untuk mengubah corak kehidupan di dunia ke arah yang lebih baik (QS. Ar-Ra’d ayat 11). Ditundukkan dan dimudahkan oleh Allah SWT. baginya untuk mengelola dan memanfaatkan alam semesta (QS. Al-Jatsiyah ayat 12 s/d 13). Antara lain, ditetapkan arah yang harus ia tuju serta dianugerahkan kepadanya petunjuk untuk menjadi pelita dalam perjalanannya dan ditetapkan tujuan hidupnya, yakni mengabdi kepada Allah SWT. (QS. Adz-Dzariyat ayat 56).

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar